Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on May 17, 2013 in Log Book | 0 comments

Karies Gigi: Pengertian, Penyebab, dan Pencegahannya

Karies Gigi: Pengertian, Penyebab, dan Pencegahannya

Assalamualaikum, apa kabar semua sahabat AneukIgoe? Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat. Disini admin AneukIgoe akan menulis sedikit pengetahuan tentang gigi berlubang. Hampir semua orang mengetahui apa itu gigi berlubang, tapi jarang yang menyadari bahwa gigi berlubang merupakan “penyakit kronis” yang paling umum menyerang manusia

Para ahli berpendapat bahwa gigi berlubang atau yang dikenal juga dengan karies gigi, merupakan penyakit infeksi mikrobiologi pada gigi yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan keras. Jaringan keras pada mahkota gigi adalah email dan dentin, sedangkan pada akar gigi adalah sementum. Penting untuk diketahui bahwa pembentukan lubang di gigi merupakan tanda terjadinya infeksi bakteri. Tak jarang hal ini luput dalam penanganan karies gigi, dan hanya menitikberatkan pada perawatan restorasi (tambalan) saja, sehingga dapat menyebabkan “kegagalan” dalam menghentikan penyebab utama karies gigi. Meskipun perawatan simtomatik itu penting, tetapi kegagalan dalam mengidentifikasi dan menghentikan penyebab karies gigi dapat menyebabkan karies gigi untuk kembali terjadi.

Terjadinya karies pada manusia tidak selalu dapat diprediksi, dan sangat penting untuk memahami keseimbangan antara demineralisasi dan remineralisasi gigi. Lesi karies hanya dapat terjadi jika massa bakteri pada gigi mampu membentuk lingkungan yang bersifat asam untuk demineralisasi gigi. Massa bakteri ini, atau yang dikenal luas sebagai plak gigi (dental plaque), merupakan massa bakteri yang bersifat gelatin yang menempel pada permukaan gigi. Bakteri yang dominan sebagai penyebab karies gigi asalah Streptococcus mutans. Sisa-sisa makanan pada gigi dimetabolisme oleh bakteri yang terdapat pada plak gigi dan menghasilkan zat asam sebagai produknya. Zat asam ini dapat menurunkan pH pada permukaan gigi dan meluruhkan struktur kristal jaringan keras gigi (email, dentin). Ketika sisa makanan telah dimetabolisme, aktivitas bakteri menurun dan perlahan pH pada permukaan gigi kembali meningkat. Remineralisasi struktur gigi yang rusak dapat terjadi pada pH diatas 5,5. Saliva mengandung kalsium dan ion fosfat konsentrasi tinggi yang dapat menjadi zat untuk remineralisasi gigi dan dapat meningkatkan efek buffering pada rongga mulut. Lubang di gigi dapat terbentuk jika proses demineralisasi lebih besar dibandingkan remineralisasi gigi.

Faktor Karies

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan karies

Karies gigi diketahui telah menjangkiti manusia sejak masa lampau dan prevalensi dari karies gigi telah meningkat tinggi saat ini. Hal ini berhubungan erat dengan perubahan pola makan seseorang. Prevalensi karies gigi memuncak pada akhir tahun 1970-an dan mulai menurun di awal 1980-an di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, Eropa Barat, Selandia Baru, dan Australia. Menurunnya karies di beberapa negara maju terlihat jelas pada kelompok masyarakat kelas menengah dan atas, sebaliknya masyarakat kelas bawah memiliki prevalensi karies yang lebih tinggi. Di Indonesia sendiri, pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007, menunjukkan bahwa prevalensi karies di Indonesia pada penduduk usia 12 tahun keatas sebesar 46,5%. Jika diurutkan menurut provinsi, prevalensi karies aktif tertinggi ditemukan di Provinsi Jambi (56,1%), Kalimantan Barat (55,2%), Maluku (54,4%), Riau (53,3%), dan DI Yogyakarta (52,3%).

Bagaimana cara mencegah karies gigi? Pencegahan karies gigi merupakan hal yang melibatkan beberapa faktor yang saling berhubungan. Tujuan utama dari pencegahan karies harus dapat mengurangi jumlah bakteri kariogenik. Pencegahan karies gigi didesain untuk menghambat demineralisasi gigi yang disebabkan oleh bakteri kariogenik, yang dapat mencegah terbentuknya lubang di gigi. Metode yang dapat digunakan termasuk (1) menghambat pertumbuhan patogen dan (2) meningkatkan resistensi permukaan gigi terhadap demineralisasi. Di bawah ini dapat dilihat berbagai metode yang dapat mencegah karies.

Pencegahan Karies Gigi

Metode-metode pencegahan karies gigi pada berbagai macam model.
(Diadaptasi dari Sturdevant’s Art and Science of Operative Dentistry, 5th Edition)

Bagaimanapun, manajemen karies gigi dan konsekuensi yang terkait didalamnya merupakan aktivitas yang harus dilakukan bersama-sama dengan dokter gigi. Restorasi (menambal) gigi yang berlubang tidak lagi menjadi satu-satunya jalan keluar. Sebaliknya, para dokter gigi harus mampu mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko karies tinggi dan memberikan pencegahan sejak dini. Hal ini penting untuk dapat menekan prevalensi dan insidensi karies gigi, khususnya di Indonesia.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Pembaca diperbolehkan untuk meng-copy artikel ini asal tetap mencantumkan link asli artikel ini. Hargailah penulis dan jangan menjadi pembajak ide.
Seluruh informasi yang disediakan oleh AneukIgoe.com adalah bersifat umum dan disediakan untuk tujuan pengetahuan saja dan tidak dianggap sebagai suatu rekomendasi tindakan medis. Pada dasarnya AneukIgoe.com tidak menyediakan informasi yang bersifat rahasia, sehingga hubungan dokter gigi-pasien tidak terjadi. Untuk suatu rekomendasi medis yang dapat diterapkan pada keluhan Anda, Anda dapat menghubungi seorang dokter gigi yang kompeten.
Rizkyd (Rizky Darmawan) adalah  mahasiswa profesi dokter gigi di Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala. Suka online, baca ebook dan main game, kini ia memulai menulis hal-hal yang menarik & bermanfaat. Follow twitternya di @rizkyerde

Share this article

468 ad

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Email
Print